Cerita Islami – Hoax Bagian 7

SONY DSC

“Itu apa Rin?” Nina bertanya ketika mendapati Arin sedang memutar kembali video yang ia kirimkan kepada Jordan. Nina mendekat dan ikut melihat video itu.

“Oh, ini. Ini rekaman aku ngajar mbak. Aku kirim ke anak-anak di Banjarnegara. Kasian mereka nggak ada yang ngajar ngaji sejak aku pergi.” Jelas Arin sambil berniat menyetop viedonya tapi tiba-tiba Nina mencegahnya.

“Tunggu, jangan ditutup dulu. Mbak mau lihat sampai habis.” Nina memperhatikan dengan seksama video amatir milik Arin. Arin keheranan dengan sikap Nina yang seolah begitu tertarik dengan video itu. “Rin, mbak punya ide!” Tanpa mengalihkan pandangannya, Nina menepuk pundak Arin dengan sangat kuat.

“Ide apa mbak?” Arin bertanya ketika video itu sudah selesai dan Nina terlihat begitu puas.

“Mbak berencana membuat video pembelajaran seperti yang kamu buat tadi dalam bentuk flasdish lalu kita bagikan ke daerah-daerah pelosok binaan kita dan juga ke daerah yang belum masuk daftar daerah binaan. Gimana?” Nina sangat bersemangat. Ada binar menyala di matanya.

“Em…, ide yang bagus mbak. Dengan begitu yayasan kita bisa semakin dikenal dan makin banyak daerah yang akan percaya dengan kualitas pelayanan kita.” Arin mengangguk-angguk setuju dengan ide mbak Nina.

“Makasih ya Rin. Kamu memang yang terhebat. Sudah ngasih mbak ide yang cemerlang ini hehehe…” Nina tertawa kecil sambil memperbaiki posisi duduknya. Perutnya yang semakin hari semakin membuncit sedikit banyak menuntutnya untuk duduk dengan posisi tak biasa.

“Ah, mbak bisa aja hehehe.” Arin tertawa kecil sambil kembali fokus mengerjakan tugas-tugas dari Nina.

“Kalau begitu, kita butuh merapatkan tentang ide ini, materi apa yang akan kita sajikan, bagaimana cara penyajiannya, sumber dananya dari mana, dan siapa yang akan menjadi gurunya, modelnya.” Nina melihat kelender duduk di atas meja kerjanya dan melingkari satu tanggal sebagai tanggal rapat mereka.

“Betul mbak. Jika ingin prosesnya cepat, berarti rapatnya juga harus cepat dilaksanakan hehehe.”

“Okey. Kita akan rapat besok. Nanti mbak suruh Rani untuk menyampaikan info ini ke staf yang lain. Dan mbak mau kamu yang jadi guru di videonya.” Nina tersenyum penuh arti. Seolah berkata ‘kau tidak boleh menolaknya Arin.’

“Apa? Saya Mbak?!” Arin terbelalak. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

***

Jordan menancap mobilnya dengan kecepatan tinggi. Masih jelas dalam ingatannya apa yang baru saja ia dengar dari luar pintu kamar ayahnya. Ayahnya sudah menyewa beberapa orang untuk mencelakai Arin. Anton ternyata masih menyimpan dendam pada Arin dan dendam itu kembali menyala ketika beberapa polisi datang memeriksa perusahaannya siang tadi. Beruntung Anton mendengar saran Kepala Desa. Ia sudah mengehentikan kegiatan ilegalnya untuk sementara waktu sejak beberapa hari yang lalu. Ia sudah membersihkan beberapa hal sehingga tidak ada jejak yang tertinggal.

Jordan berencana ke Jakarta saat ini juga, saat malam masih teramat pekat. Ia mengirimkan pesan kepada Arin agar wanita itu tetap berada di dalam rumahnya. Arin pun membalas bahwa ia memang wanita yang tidak suka keluar malam. Membaca balasan itu, Jordan merasa sedikit legah sebab ia ingat ayahnya berpesan pada suruhannya agar mereka melakukan aksinya ketika Arin berada di luar rumah, seolah-olah yang terjadi adalah sebuah kecelakaan.

Dalam hati Jordan terus berdoa semoga ia bisa tiba di Jakarta tepat waktu. Semoga di perjalanan tidak ada hambatan seperti terakhir kali ketika ia ke Jakarta bersama Arin. Ia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Arin baik-baik saja. Sedikit banyak ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan wanita berjilbab itu.

Jordan sengaja tidak mengabarkan rencana jahat ayahnya pada Arin sebab ia takut Arin akan tertekan dan dihantui rawa was-was setiap waktu.

Ayah sepertinya lupa dengan perkataanku kemarin. Baiklah jika itu yang ayah inginkan. Jangan salahkan aku.

Pesan itu ia kirimkan pada Anton. Sepulang dari Jakarta, ia akan melaporkan semua kegiatan illegal ayahnya ke kantor polisi. Ia sudah memikirkan hal itu beberapa hari lalu. Ia rasa itulah keputusan yang paling tepat.

***

Arin mengerutkan kening ketika membaca sekali lagi pesan dari Jordan. Ia tidak mengerti mengapa laki-laki itu tiba-tiba menyuruhnya untuk tetap di rumah. Apa perlunya Jordan mengirimkan pesan itu padanya? Arin terus bertanya-tanya tapi tak juga menemukan jawaban yang tepat dalam pikirannya.

Ia menghela nafas kemudian meletakkan kembali hapenya di kursi. Ningsih menangkap raut wajah penuh tanya itu.

“Kenapa Rin?” Ningsih mendekat dan duduk tepat di samping anak sulungnya yang sedang tidak fokus menonton tivi.

“Nggak apa-apa Ma.” Arin tersenyum menatap ibunya yang datang dengan dua buah gelas berisi susu.

“Yang bener?” Ningsih melirik penuh selidik sambil meletakkan dua gelas itu di atas meja. Arin tersenyum menaggapi lirikan ibunya.

“Em…, menurut mama, kalau ada teman, kita jarang ketemu sama dia, jarang komunikasi sama dia, tau-tau dia kirim pesan yang isinya bukan nanya kabar tapi isinya lebih semacam anjuran. em Itu maksudnya apa ya, hehehe…”

“Apalagi? Itu artinya dia perhatian sama kamu. Masa gitu aja kamu nggak tahu sih Rin?” Ningsih menjawab dengan santai. Ia meneguk susu rasa vanilla yang saat ini berada di tangannya. Ningsih masih saja menggoda Arin. “Emang siapa yang ngirimin kamu pesan kayak gitu? Hem…” Ia menyenggol lengan putrinya.

“Adalah pokoknya, hehehe…” Arin tertawa kecil. Ia tidak tergoda untuk menceritakan lebih banyak pada ibunya. Bagi Arin antara ia dan Jordan bukanlah sesuatu yang penting, yang harus ia bagi pada ibunya, paling tidak untuk saat ini.

***

Jordan bersandar pada kursi mobil di belakang setir. Matahari sudah muncul beberapa saat lalu. Sejak subuh, Jordan sudah tiba di Jakarta dan ia langsung menuju rumah Arin. Di sana ia memarkir mobilnya tidak jauh dari rumah wanita berjilbab itu sembari mengawasi dengan seksama.

Jordan menegakkan badannya ketika ia melihat Arin keluar dari rumah dan berjalan keluar perumahan untuk menunggu angkutan umum. Jordan menyalakan mobilnya dan mengikuti Arin diam-diam. Ia juga memperhatikan orang-orang yang bertemu Arin di jalan maupun di angkutan umum. Sampai detik ini tidak ada yang mencurigakan di mata Jordan.

Siangnya Jordan memilih menghabiskan waktu di sebuah cafe yang terletak tepat di depan kantor Arin. Sambil menikmati kopi pesanannya demi menghilangkan kantuk yang sejak pagi menyerang, Jordan juga sengaja memilih tempat itu agar leluasa mengamati Arin.

Sekitar jam 2 siang, Arin pulang dari kantor dan kembali menaiki sebuah angkot. Jordan kembali mengikutinya. Sekitar 10 menit Arin turun di sebuah jalan yang nampak lengang. Jordan melambatkan mobilnya. Ketika ia melihat Arin akan menyeberang jalan, Jordan memperhatikan keadaan sekitar. Dengan kaca spionnya, ia melihat sebuah mobil hitam muncul dari arah belakang.

Mobil hitam itu sudah mengikuti Arin sejak wanita itu keluar dari kantornya. Mereka adalah suruhan Anton. Inilah kesempatan mereka menjalankan misi. Arin menengok ke kanan dan kiri sebelum akhirnya melangkahkan kaki. Mobil hitam itu langsung bergerak dengan kecepatan tinggi dan mengarah pada Arin yang tidak sadar sama sekali bahwa ia sedang menjadi target sebuah rencana kejahatan.

Jordan tidak tinggal diam. Ia juga menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ketika mobil hitam itu sudah semakin dekat dengan Arin, Jordan menyalipnya dari sebelah kiri dengan lebih dulu tiba di hadapan Arin. Mobil hitam itu langsung membelok arah menghindari tabrakan dengan Jordan. Suara rem serta ban yang beradu dengan aspal begitu terdengar nyaring. Arin kaget bukan main. Ia memegang dadanya yang rasanya akan loncat keluar ketika mobil Jordan berhenti tepat beberapa centi darinya. Arin mundur beberapa langkah dan melihat ke dalam mobil. Dengan sigap Jordan membuka pintu mobil dan menyuruh Arin segera masuk. Keterkejutan Arin bertambah. Ia tidak menyangka Jordan berada di depannya saat ini.

“Cepat masuk! Nanti akan kujelaskan!” Jordan memerintah Arin dengan penuh penekanan. Arin menurut, ia segera masuk ke dalam mobil. Sementara mobil hitam tadi sudah menghilang ketika mereka menyadari bahwa yang baru saja menggagalkan rencana mereka adalah Jordan, anak dari bos mereka.

***

Arin dan Jordan kini berada di teras sebuah masjid. Jordan sudah menceritakan semuanya pada Arin, menceritakan tentang polisi yang datang menggeledah rumah dan kantor ayahnya dan juga rencana jahat sang ayah. Jordan membaringkan tubuhnya di atas ubin putih dan bersih. Ia meminta Arin untuk menunggunya. Ia berencana menghilangkan kantuknya dengan tidur beberapa menit saja. Arin mengiyakan. Ia memilih duduk beberapa meter dari tempat Jordan merebahkan tubuhnya.

Ia masih ingat perkataan laki-laki bermata sipit itu tentang rencananya melaporkan sendiri kejahatan sang ayah. Arin cemas, tentu rencana itu tidak semudah yang mereka pikirkan. Ayahnya pasti sudah mengantisipasi hal itu apalagi saat ini sang ayah sudah tahu bahwa Jordan ada di Jakarta dan menggagalkan rencananya. Itu artinya sang ayah sudah tahu bahwa Jordan mengetahui rencana jahatnya yang akan menjadi alasan kuat Jordan mewujudkan ancamannya beberpa hari lalu.

Tiga puluh menit berselang. Jordan perlahan membuka matanya dan mendapati Arin sedang bersandar di tembok masjid sambil membaca Al-Qur’an. Diam-diam ia memperhatikan wanita berjilbab hitam itu. Jordan melihat ada yang berbeda dengan penampilan Arin, jilbab wanita itu semakin panjang dan lebar. Jordan tersenyum. Dalam hati ia berbisik, sekiranya semua wanita di dunia ini berpenampilan seperti Arin sudah tentu laki-laki di seluruh dunia akan merasa tenang.

Arin menyudahi bacaan Al-Qur’annya ketika Jordan sudah duduk sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia berdiri sembari menyambar jaket hitamnya yang tergeletak di lantai sebagai alas kepalanya sewaktu tidur tadi.

“Ayo. Aku akan mengantarmu pulang!” Jordan berjalan lebih dulu menuju mobilnya yang terparkir didekat gerbang masjid.

“Tidak usah. Aku bisa pulang naik angkot.” Tolak Arin. Ia berdiri dan berjalan mendahului Jordan.

“Jangan keras kepala. Bagaimana kalau mereka masih mengawasimu dan mencari kesempatan baru?” Jordan melangkah dan berhenti tepat di depan Arin.

“Bukannya kamu yang bilang kalau mereka tidak mungkin muncul lagi?!” Arin protes. Menurut Jordan, ayahnya pasti sudah membatalkan rencana jahatnya karena takut Jordan benar-benar akan membongkar seluruh rahasia perusahaannya.

“Iya. Itu tadi. Sekarang aku berfikir berbeda.” Jordan masih cemas. Ia tidak yakin seratus persen.

“Tidak. Aku tetap akan pulang naik angkot. Kalau kamu tetap ngotot ingin tahu aku selamat sampai rumah, kenapa kamu tidak ikuti saja angkotnya?” Arin menjawab ketus.

“Kalau seperti itu, kenapa juga kau tidak sekalian naik di mobilku dan kuantar sampai rumahmu dengan selamat!” Balas Jordan tak kalah ketus.

“Karena aku tidak mau naik mobil bersamamu lagi!” Arin meninggalkan Jordan yang masih terlihat tidak puas dengan jawaban wanita itu.

“Kenapa? Apa ada yang melarangmu? Atau itu bagian dari aturan dalam agamamu? Kenapa agamamu begitu menyusahkan?!”

Arin menghentikan langkahnya. Ia tersinggung dengan kalimat yang baru saja Jordan lontarkan. Ia berbalik dan menatap Jordan dengan tajam.

“Kalau kau tidak tahu tentang sesuatu, jangan membicarakannya, itu hanya akan membuatmu terlihat bodoh! Tahu apa kau tentang agamaku?! Aku tidak mau berdua denganmu sama sekali tidak menyusahkanku. Kau yang membuatnya susah dengan memaksakan kehendakmu!” Arin terdengar menahan marahnya. Jordan terkejut, ia tidak menyangka respon Arin akan semarah itu. Arin menarik nafas dan mencoba menenangkan dirinya. “Sudahlah. Kujelaskan pun akan percuma. Sebab agama itu harus dilandasi keyakinan. Jika kita yakin, maka semua aturan akan terasa mudah. Masalahnya adalah aku yakin dengan agamaku, tapi kamu tidak, maka semua akan terlihat susah di matamu. Kuharap kau mengerti.” Kali ini Arin menjelaskannya dengan lebih sabar.

“Maafkan aku. Aku yang salah. Seharusnya aku tidak membahas sesuatu yang tidak aku ketahui.” Jordan mengaku salah. Dan memang ia merasa benar-benar bersalah.

“Baiklah. Aku pulang. Kuharap semua yang kau rencanakan berjalan dengan baik.” Arin memunggungi Jordan dan berdiri menunggu angkot di depan gerbang. Sementara Jordan berjalan menuju mobilnya.

Di dalam mobil, Jordan memaki dirinya sendiri atas ucapannya yang sudah melukai perasaan Arin. Tidak seharusnya ia mengucapkan kalimat itu sekesal apapun dirinya. Jordan menyalan mobilnya ketika ia melihat Arin sudah menaiki angkot. Ia mengikuti Arin sampai wanita itu benar-benar memasuki rumahnya. Ketika Arin akan menutup pintu, ia melihat mobil Jordan berada tidak jauh dari rumahnya. Arin cepat-cepat mengambil hapenya dan mengirimkan sebuah pesan pada Jordan.

Kau sudah melihatku sampai dengan selamat. Pulanglah, dan terima kasih.

***

Bersambung ke bagian 8

~ Hai readers ketemu lagi dalam kisah Arin dan Jordan. Seperti biasa jangan lupa like, komen, dan share jika suka ya ^^

Terima kasih ^^

Salam hangat dan cinta ❤

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s