Cerita Islami – Menunggu (Promise) [Cerpen]

promise

Cahaya masuk lewat jendela berkaca bening, menambah cerah di wajah cantik Aira yang sedang khusyuk membacakan puisi karyanya di depan kelas. Suaranya yang lantang lalu lembut membuat siapa saja yang mendengar ikut terhanyut tak terkecuali Abas, sang ketua kelas yang populer.

Semua teman kelas memberikan tepukan kebanggaan ketika Aira baru saja menutup puisinya dengan apik. Wanita berambut panjang itu tesenyum dan melihat ke arah Abas yang sejak tadi tidak memalingkan pandangannya. Laki-laki beralis tebal itu memberi senyuman balasan sembari mengangguk-angguk kecil memuji penampilan Aira.

Abas sudah sejak lama menyukai Aira, sejak pertama kali melihatnya di hari pendaftaran sekolah dua setengah tahun lalu. Dari sekian banyak siswa baru, mata Abas hanya tertarik pada sosok Aira yang begitu memesona setiap jiwa. Aira wanita yang memiliki wajah putih, bersih. Ketika tersenyum pipinya nampak merona. Jika tertimpa cahaya, wajahnya nampak seperti mentari. Tak ada yang tidak menyukai Aira, ia gadis yang ramah pada siapa saja. Ia juga wanita yang cerdas. Ia mencatatkan namanya menjadi pendaftar siswa baru dengan hasil tes tertinggi.

Begitupun Aira, ia juga menyukai Abas, laki-laki tinggi berwajah rupawan yang selalu jadi pusat perhatian di mana pun berada. Ketika ia di lapangan basket atau bola, banyak gadis meneriaki namanya, banyak gadis yang siap memberikan air minum untuk melepas dahaganya. Ia juga tak kalah pandai dari anak-anak pandai lainnya. Kulitnya cokelat karena matahari seperti sudah menjadi sahabatnya. Ia sangat suka dengan alam.

Abas bukan tak berani mengungkapkan perasaannya. Ia sudah melakukannya saat mereka lari pagi bersama di hari minggu beberapa waktu lalu. Laki-laki itu menulis surat untuk Aira dan ia meminta gadis itu membalas suratnya sesaat setelah Aira membacanya.

Aku mendaki gunung dan aku menyadari semua yang ada di alam ini dicipta untuk saling mengisi dan melengkapi. Air untuk pohon, pohon untuk rumah, rumah untuk manusia, dan manusia untuk manusia lainnya.

Lalu aku bertanya-tanya, aku dicipta untuk siapa? Ini pertanyaan yang sulit untuk kujawab sendiri.

Maukah kau membantuku menjawabanya? Membuat pertanyaan ini lebih mudah?

Aira tersenyum. Sebentar ia menatap Abas yang balas menatapnya sambil memberinya sebuah pena yang sudah ia siapkan.

Manusia untuk manusia yang lainnya. Itulah yang ingin kulakukan saat ini. Aku ingin belajar lebih giat agar aku bisa menjadi manusia yang berguna bagi yang lain.

Menjadi sahabat sudah sangat membahagiakan bagiku saat ini.

Begitulah cara mereka menjadi sepasang sahabat. Abas memutuskan untuk tetap menyukai Aira meski Aira hanya bisa menjadikannya sahabat, tidak lebih. Ia selalu menjadi seseorang yang bisa Aira andalkan dalam keadaan apa pun.

***

Sebentar lagi 17 Agustus. Aira, Abas, dan semua murid tengah sibuk mempersiapkan diri. Banyak lomba yang akan mereka ikuti. Aira mewakili sekolahnya untuk lomba cerdas cermat dan puisi. Sementara Abas mewakili sekolahnya untuk lomba sepak bola dan basket.

Semakin mendekati hari H, semakin lambat mereka pulang ke rumah karena latihan semakin padat. Aira banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk belajar dan membuat puisi. Sementara Abas banyak menghabiskan waktunya di lapangan untuk latihan. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Bertemu hanya jika berada di kelas. Bahkan mendekati hari lomba, mereka sudah bebas dari jam belajar. Mereka fokus pada lomba sehingga tak pernah bertemu.

Aira menatap langit yang semakin gelap. Hari ini, hari terakhir latihan. Ia terlalu sibuk sehingga lupa untuk sekedar memandang keluar perpustakaan. Hujan turun begitu lebat. Cepat-cepat ia menutup buku dan bersiap untuk pulang. Petugas perpustakaan juga sudah bersiap-siap mengunci pintu.

Hujan belum juga berhenti dan malam semakin pekat. Sekolah telah sunyi sementara petugas perpustakaan telah pulang lebih dulu. Aira menolak diantar sebab rumah mereka berlawanan arah. Aira berkeras bisa pulang sendiri. Tapi sayangnya kekerasan hatinya kini menghilang saat menatap jalan yang sunyi di depannya.

Aira teringat dengan Abas. Ia cepat-cepat melangkahkan kakinya ke lapangan basket di belakang sekolah. Ia berharap laki-laki itu masih berada di sana. Suara tapak Aira terdengar keras ketika ia belari dari depan ke belakang sekolah. Dalam hati ia terus memanjatkan doa.

Gelap. Sunyi. Aira tidak melihat siapa-siapa di sana. Ia mendesah putus asa. Seharusnya ia tahu, sebab hujan tengah turun. Siapakah yang akan tetap bermain basket di tengah hujan lebat. Aira tidak tahan untuk tidak menangis. Perasaan takut merasuki dirinya. Apalagi ketika ia mengingat cerita teman-temannya tentang peristiwa pemerkosaan beberapa hari lalu.

“Aira? Apa itu kamu?”

Aira terkejut. Ia cepat-cepat berbalik dan melihat seseorang mendekat dengan sebuah senter di tangan. Gadis itu cepat-cepat mengusap air matanya. Ia hafal betul suara itu. Aira cepat berlari dan berdiri dengan tubuh basah kuyup di depan laki-laki itu, Abas.

“Kenapa baru datang sekarang? Kenapa kamu terlambat?! Kukira aku akan mati ketakutan dan kedinginan di sini! Hiks…, hiks…!” Aira menangis sambil memukul lengan Abas.

“Maaf membuatmu menunggu terlalu lama. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku berjanji.” Abas hanya bisa menatap Aira sampai tangis gadis itu reda. Ia memakaikan jaket pada Aira dan mengantarkannya pulang dengan selamat.

Beberapa saat sebelumnya, ketika Abas baru saja tiba di rumah, ia melihat penjaga perpustakaan lewat. Ia bertanya mengapa petugas itu baru pulang. Ketika Abas tahu penyebabnya, ia langsung berlari ke sekolah. Ia yakin Aira masih ada di sana, mencarinya, menunggunya.

***

Aira nampak begitu bahagia. Hari ini adalah hari kelulusannya, hari ia akan menanggalkan seragam putih abu-abunya dan memulai langkah baru, langkah yang lebih berat dan jauh. Ia berhasil menjadi lulusan terbaik tahun ini dengan nilai tertinggi. Aira sangat bahagia sebab cita-citanya terasa semakin dekat. Ia akan menjadi seseorang yang hebat dan sukses, itulah yang ia impikan.

Sementara Abas, ia juga bahagia. Bahagia melihat senyum di wajah Aira. Baginya, melihat Aira tersenyum sudah sangat cukup untuknya, untuk memenuhi hatinya, menghiburnya yang akan berpisah jauh dari gadis itu.

Aira akan melanjutkan sekolahnya keluar negeri sementara ia akan tetap di sini, menyimpan semua kenangan indah tentang mereka. Ia memilih untuk menunggu, menunggu Aira pulang dan pada saat itu tiba, ketika ia sudah dewasa dan mampu bertanggung jawab, ia akan melamar gadis itu, gadis yang selalu ia simpan di dalam hatinya.

Sebuah perahu harus berlayar. Bertarung melawan besarnya ombak dan kerasnya karang. Jika ia berhasil kembali bersandar pada dermaga, barulah ia dikatakan perahu yang kuat.

Aku ingin menjadi perahu yang kuat, yang besar, yang bisa menampung semua orang dan membawa mereka berlayar bersama.

Aku tidak memaksamu menjadi dermaga. Tapi kuharap kamu tidak mudah melupakanku.

Sahabat terbaikmu,

Aira.

Abas menyimpan dengan sangat baik surat terakhir dari Aira sebelum gadis itu pergi. Baginya itulah hadiah perpisahan terindah yang ia terima.

***

“Permisi, apa dokter Abas ada di klinik?” Seorang wanita datang ke klinik pribadi Abas. Waktu telah berlari begitu jauh. Sudah sepuluh tahun berlalu. Abas sudah menjadi dokter yang sukses dan tampan. Kepupulerannya belum juga luntur. Banyak wanita yang sengaja datang berobat hanya karena ingin melihat wajahnya dan mendengar suaranya.

“Maaf, apakah mbak sudah buat janji sebelumnya?” Pegawai itu bertanya dengan hati-hati.

Wanita itu tersenyum. Wajahnya nampak merona. “Iya. Sampaikan saja, seseorang yang ia tunggu sudah tiba.”

“Baik mbak. Tolong tunggu sebentar.” Pegawai itu segera menelpon ke ruangan praktek Abas. Tidak lama, pegawai itu sudah meletakkan teleponnya dan mempersilahkan wanita itu masuk.

Abas berdiri dari duduknya ketika pintu itu diketuk. Begitulah kebiasaanya. Ia selalu menyambut pasiennya dengan berdiri dan tersenyum ramah.

“Assalamu’alaykum…,” Wanita itu membuka pintu dengan perlahan. Ia menatap Abas dengan jas putih kebanggaan setipa dokter.

“Wa’alaykum…” kalimat Abas terpotong. Ia sangat terkejut melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya. Dialah seseorang yang selama sepuluh tahun terus Abas tunggu dengan setia. Aira. “Wa’alaykumusaalam…” Abas melanjutkan kalimatnya sembari tersenyum. Senyum tercerah yang pernah ia punya.

Aira balas tersenyum. Untuk beberapa detik tak ada kata di antara mereka. Masing-masing sedang terlempar ke masa lalu, ke masa-masa kebersamaan mereka ketika SMA. Barulah setelah itu Abas mempersilakan Aira duduk dan mulailah mereka bercerita satu sama lain tentang sepuluh tahun yang mereka lewati tanpa kehadiran satu sama lain.

Aira sedikit berubah. Dulu ia adalah gadis yang sangat ambisius dengan segala cita-cita yang ia punya, ia ingin sukses dengan gelar pendidikan tertinggi dengan pekerjaan yang berkelas di mata orang-orang. Abas tidak menyangka jika saat ini Aira memilih menjadi seorang guru TK, guru anak-anak di sebuah pedalaman. Ia menghabiskan waktunya mengajar anak-anak pelajaran umum dan juga pelajaran agama. Ia menghabiskan waktunya untuk bermain bersama mereka.

Dan satu lagi, penampilan Aira berubah. Kini ia terlihat lebih cantik dengan jilbabnya, jilbabnya yang panjang.

Abas tersenyum bangga mendengar cerita-cerita Aira di pedalaman. Cita-citanya belum berubah untuk menjadi manusia yang dibutuhkan manusia lain. Hanya saja perahunya memilih melewati ombak yang lebih besar dan karang yang lebih kuat. Tidak gampang memutuskan untuk memutar haluan di tengah keinginan yang memuncak dan pulau impian sudah di depan mata bukan? Dan Aira berhasil melakukannya.

“Apa kau sudah menikah?”

Abas terkejut mendengar pertanyaan Aira. Ia menatap Aira yang tengah tersenyum padanya. Tak ada yang berubah. Wajah itu masih sama, masih bercahaya.

“Hem…, belum.” Abas tersenyum tipis.

“Kenapa? Kudengar kamu masih sepopuler dulu. Seharusnya kau cukup memilih bukan? Hehehe…” Aira tertawa kecil.

Abas hanya bisa tersenyum. Dalam hati ia berucap: Aku sudah berjanji untuk menunggu seseorang.

“Kamu? Apa sudah menikah?” Abas bertanya hati-hati. Ia berharap Aira memiliki jawaban yang sama dengannya.

“Aku belum menikah.”

Abas lega mendengarnya.

“Tapi aku akan segera menikah. Karena itu aku menemuimu. Aku ke sini untuk mengantarkan undangan ini secara langsung.” Aira mengeluarkan undangan berwarna emas, undangan pernikahannya.

Abas terpaku. Ia kehilangan kata-kata.

Aku sengaja menunggu sekian waktu hanya untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan di dalam hatiku. Dan hari ini aku telah mendapatkan jawabannya. Kuharap kau bahagia Aira. Jika kau bahagia, bagiku itu sudah cukup.

***

Abas memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya. Ternyata melupakan tidak semudah yang ia pikirkan. Ia berharap dengan sibuk belajar, ia akan melupakan Aira sedikit demi sedikit. Melupakan pertanyaan-pertanyaan di dalam hatinya, apakah Aira bahagia? Apakah ia telah memiliki anak-anak yang lucu?

“Pergilah ke kamar 101. Dan mulailah observasi.” Seorang dokter senior memberikan sebuah map berisi data seorang pasien pengidap Laukimia. Abas segera menuju kesana dengan membawa map berwarna kuning itu.

Abas mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kamar. Tak ada seorang pun kecuali seorang pasien yang tengah terbaring di atas tempat tidur dengan memunggunginya. Baru akan mendekati sang pasien seseorang masuk ke kamar, Abas pun menoleh.

“Nak Abas…?”

“Tante? Kenapa bisa di sini?” Abas kaget melihat ibu Aira berdiri di depannya. Wanita itu juga tak kalah kagetnya.

Wanita itu tidak menjawab. Ia mendekap mulutnya sendiri lalu menangis. Pundaknya bergunjang hebat. Ia berjalan mendekati ranjang pasien dan mengusap wajah putih itu. Abas mengikutinya dan melihat siapa yang tengah terbaring tak sadarkan diri.

“Aira…?” Abas kaku. Ia membeku di tempatnya. Kata-katanya lenyap seketika.

“Maafkan tante Nak. Ini semua atas permintaan Aira. Ia tidak mau kamu tahu yang sebenarnya.”

“Apa maksud tante? Bukankah seharusnya Aira menikah dan hidup bahagia?” Abas masih tidak percaya bahwa wanita yang sedang berada di hadapannya adalah Aira, wanita yang belum pernah hilang dari hatinya meski sedetik.

“Ia berbohong. Ia tidak ingin kamu menunggunya, menunggu seseorang yang sebentar lagi pergi untuk selamanya.” Ibu Aira masih menangis.

“Aira…” Abas menghembuskan nafas berat, ia seperti kehilangan kekuatan mendengar penjelasan itu.

“Em…, em…, ma…., sakit…!” Aira tersadar. Nyeri hebat menyerang tulang-tulangnya. Ia menangis menahan sakit yang ia rasakan di sekujur tubuhnya. Matanya tetap tertutup dan air mata itu terus mengalir. Ibunya segera meraih tangan Aira dan menguatkannya. Wajah Aira begitu pucat karena anemia yang sulit disembuhkan. Suhu tubuhnya begitu tinggi dan tidak pernah turun sejak ia dirawat.

Abas tidak tinggal diam. Ia begitu menderita melihat Aira kesakitan. Ia berlari dan menemui dokter senior dan meminta sang dokter melihat keadaan Aira, memeriksanya, menyembuhkannya. Dokter itu menenangkan Abas yang terlihat kacau. Ia mengatakan bahwa leukemia yang diderita oleh Aira sudah stadium 4, sudah tahap akhir. Segala cara sudah mereka lakukan namun tak ada perubahan. Aira hanya tinggal menunggu hari.

Abas tersungkur di lantai, ia menangis. Ia merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk Aira.

***

Sekiranya aku bisa mengungkapkan perasaanku, aku pasti sangat bahagia. Bahwa tak ada kenangan terindah selain dengannya, bahwa tak ada orang lain di hati ini. Tapi aku tidak bisa. Bukan. Lebih tepatnya aku tidak boleh, aku tidak boleh membuatnya terus menunggu, menunggu seseorang yang tak punya masa depan.

Aku berharap ia menemukan wanita yang baik dan menikah, hidup bahagia. Sebab bahagianya sudah cukup membuatku bahagia.

Biarlah aku yang menunggu. Menunggu waktu terakhirku mengenang semua kenangan kami, menunggu waktu dimana aku tak bisa membuka mata dan melihat dunia lagi.

Perahu ini ternyata telah rusak dan akan karam, tenggelam dan hancur terbawa arus, sendirian.

Semoga dermagaku tak lagi menunggu.

Abas menutup buku harian Aira. Dua tahun telah berlalu. Aira meninggal tiga hari setelah Abas melihatnya di kamar 101.

Buku itu ia letakkan di atas meja kerjanya tepat di depan foto pernikahannya. Pernikahan antara ia dan wanita yang ia cintai, Aira.

Sehari setelah ia melihat Aira di kamar 101, Abas meminta izin untuk menikahi Aira. Awalnya orang tua Aira tidak yakin, tapi Abas meyakinkan mereka. Abas ingin merawat Aira hingga akhir, menyempurnakan kebahagiaan wanita itu selagi waktu masih ada dan itu hanya bisa ia lakukan jika ia menjadi suami dari wanita yang ia cintai. Ia tak ingin Aira menunggu, sebab itulah janjinya dulu.

Mereka pun akhirnya menikah saat itu juga disaksikan oleh para dokter dan perawat. Aira sangat bahagia begitupun Abas.

“Sekiranya ini hanya sehari, hanya sehari bersamamu, aku sudah sangat bahagia.”

“Aku pun sama.”

Abas mencium kening isterinya dan memeluknya erat dalam dekapannya hangat. Aira tersenyum. Ia balas memeluk Abas dengan sisa tenaga yang ia punya. Perlahan ia memejamkan matanya yang tak pernah ia buka lagi, selamanya.

-Selesai-

_Nuhudayanti Saleh_ (12/8/2017. Ketika saya tiba-tiba melow)


Hai sahabat ketemu lagi dengan cerpen terbaru kami. Seperti biasa, jangan luka kasih like, komen, dan share jika suka ya ^^

Salam hangat dan cinta ❤

Iklan

14 thoughts on “Cerita Islami – Menunggu (Promise) [Cerpen]

    • Syukran atas semangat dan dukungannya ukhty shalihah yang entah siapakah gerangan dirimu Lady Butterfly 😀

      Syukran juga sudah mampir dan meninggalkan jejak cantiknya ^^

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s